Selasa, 20 Maret 2018

Asal usul nama desa Kare kabupaten Madiun



Asal Usul Nama Desa Kare
Setiap Daerah tentunya mempunyai asal usul atau sejarah,begitu pula dengan Desa Kare. Desa kare adalah sebuah desa yang terletak di kecamatan kare kabupaten madiun provinsi Jawa Timur. Meskipun sejarah desa Kare itu terkadang hanya berdasar dari penuturan para orang tua / dongeng dari satu orang ke orang lain yang sudah turun temurun yang kemudian menjadi sebuah legenda. Namun tak ada salahnya jika kita menggalinya untuk bahan kajian atau diskusi.Untuk sejarah desa Kare memang sangat minim sejarah yang bisa di gali karena tidak adanya situs situs arkeologi yang menceritakan kapan berdirinya Desa Kare.Namun secara tutur Legenda tentang Desa Kare itu ada.Saya akan mencoba menceritakan kembali asal usul Desa Kare berdasar tutur tinular tersebut.

Alkisah di lereng Gunung Wilis hiduplah seorang tokoh sakti bernama Ki Ageng Wilis nama tersebut sesuai dengan tempat pertapaannya yang berada di lereng Gunung Wilis. Ki Ageng Wilis mempunyai seorang keponakan yang bernama Ki Joko Slining yang hidup bersama Ki Ageng Wilis. Pada suatu hari, Ki Joko Slining ingin mempersunting seorang putri bernama Putri Kencono Wungu yang merupakan keponakan dari Adipati Madiun yang disayembarakan untuk mencari jodoh.

Ketika mendengar berita tersebut setelah meminta izin kepada Ki Ageng Wilis dan atas restu beliau, maka pada siang hari berangkatlah Ki Joko Slining dengan sahabatnya (tidak ada yang tau siapa nama sahabat yang di maksud) menuju Padepokan Putri Kencono Wungu dengan menaiki sebuah perahu sampan.Menurut cerita perahu sampan yang mereka naiki  terbuat dari batu.Ki Joko Slining memulai perjalanannya dari puncak Gunung Wilis. Di tengah perjalanan perahu batu tersebut terjebak oleh pusaran air yang hebat namun  Ki Joko Slining berhasil melewati pusaran air tersebut. Kemudian untuk mengenang tempat tersebut maka Ki Joko Slining memberi nama daerah tersebut dengan sebutan Seran. Disekitar Seran memang ada sebuah tempat yang bernama Margo Embag (tempat yang sangat berair dan becek) dan sampai sekarang tempat tersebut masih mengeluarkan air mirip seperti rawa.Mungkin tempat tersebut adalah pusaran air yang dahulunya menjebak Ki Joko Slining dan perahunya.

Setelah berhasil melewati pusaran air, perjalanan dilanjutkan kembali. Namun karena sahabat Ki Joko Slinning kelelahan, maka iapun tertidur lama sekali (suwe turu wae = bhs. Jawa) disebuah tempat di atas batu yang bernama Selo Bekel maka untuk mengingat tempat tersebut diberi nama Suweru.Selo Bekel bisa kita jumpai saat ini yang berada di Dusun Seweru Desa Kare.Setelah sahabatnya bangun dari tidur, perjalanan kemudian dilanjutkan. Namun karena kecapekan dan baru bangun dari tidur maka kapal yang ditumpangi terpleset dan jatuh namun keduanya masih selamat. Maka tempat terpleset itu diberi nama Plosorejo. Plosorejo letaknya tidak jauh dari Seweru hanya berjarak sekitar limaratus meter saja.

Kemudian setelah berjalan beberapa saat, tak terasa hari sudah menjelang sore  Ki Joko Slining dan sahabatnyapun  tiba di suatu tempat dan melihat ada bunga yang sedang mekar bunga tersebut bernama Bunga Dipoyono konon bunga Dipoyono tersebut sangatlah indah,maka kemudian dipetiklah bunga tersebut sebagai tanda untuk mempersunting  Sang Dewi pujaan Putri Kencono Wungu. Kemudian untuk mengenang tempat pemetikan bunga tersebut, maka daerah itu diberi nama Kare ( berasal dari kata Sekar Mekar Sore ).Sekar mekare sore artinya Bunga yang mekar di waktu Sore.

Setelah memetik bunga Dipoyono perjalananpun dilanjutkan , namun sayang rupanya nasib kurang begitu beruntung, kapal batu yang mereka naiki  yang diikat dengan tali temali simpul tersebut berkali-kali putus(tali simpul=dalam bhs Jawa tali wangsul). Oleh karena itu, tempat kejadian putusnya tali simpul (tali wangsul) tersebut diberi nama dengan Gondosuli yang artinya Gonta ganti tali Wangsul. Tali simpul yang terputus tadi kemudian disambung-sambung di suatu tempat yang kemudian dinamai Sambong.

Setelah selesai menyambung tali wangsul yang terputus perjalananpun dilanjutkan kembali.Namun lagi lagi perjalanan Ki Joko Slining dan sahabatnya kurang beruntung , dalam perjalanannya ternyata perahu yang ditumpangi tersangkut di suatu tempat hingga menjelang  pagi tiba sehingga Ki Joko Slining tidak bisa melanjutkan perjalannya , alhasil Ki Joko Slining tak bisa mengikuti sayembara. Karena merasa gagal dan malu karena tak bisa mengikuti sayembara uuntuk mempersunting Putri Kencono Wungu. Maka tempat tersangkutnya perahu batu tersebut dinamai dengan Kuwiran ( kewirangan = Bhs. Jawa ) akhirnya  kapalnya ditinggal begitu saja di sana. Kapal tersebut sampai sekarang masih ada di tengah hutan di Desa Kuwiran.

yang menceritakan apakah setelah kegagalannya  untuk menyunting Dewi Kencono Wungu tersebut Ki Joko Slining kembali ke padepokan Ki Ageng Wilis atau tidak.Cerita tutur itu hanya sampai di Desa Kuwiran. Mungkin Ki Joko Slining kembali lagi ke lereng Wilis dan berkumpul kembali dengan Ki Ageng Wilis dan menetap selamanya di lereng Wilis..Sebab  di jalur yang di lalui Ki Joko Slining ada tempat yang bernama Kempo yang berarti Kumpul.Tidak diketahui pula apakah putri Kencono Wungu yang akan di sunting oleh Ki Joko Slining tersebut tinggal di daerah Wungu yang berada diwilayah Kecamatan Wungu,ahli sejarahlah yang bisa membuktikan.
Sampai sekarang masyarakat Desa Kare masih mempercayai bahwa  jalur yang pernah di lalui perahu sampan Ki Joko Slining masih mengandung kekuatan mistis.Tidak ada seorangpun yang berani membangun rumah atau bangunan lain di jalur yang pernah di lalaui perahu sampan Ki Joko Slining. Demikianlah legenda Desa Kare berdasar cerita tutur yang sampai saat ini masih terpelihara,meskipun hanya sebagian kecil masyarakat saja yang msih memegang teguh legenda asal usul Desa Kare tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar